kasnobnews.com, | BATU BARA – Tabir gelap dugaan praktik pengendalian narkotika dari balik jeruji besi kembali tersingkap. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Labuhan Ruku kini berada di bawah sorotan tajam menyusul mencuatnya informasi mengenai aktivitas ilegal yang diduga dikomandoi oleh warga binaan. Dua nama berinisial Y dan M mencuat ke permukaan, disebut-sebut sebagai aktor intelektual di balik jaringan sabu serta praktik penipuan daring (Lodes) yang beroperasi dari dalam sel.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Berdasarkan data yang dihimpun, aktivitas ini ditengarai tidak berjalan secara sporadis, melainkan secara terstruktur dan terorganisir. Munculnya dugaan adanya “ruang kendali” di blok hunian tertentu memicu skeptisisme publik terhadap integritas dan efektivitas pengawasan internal lapas.
“Big bos Lodes dan narkoba di sini Yohan, tangan kanannya Madi,” ungkap seorang sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan, Rabu (23/4/2026).
Kesaksian tersebut mempertegas indikasi bahwa praktik ilegal ini bukanlah insiden tunggal, melainkan sebuah pola yang telah mapan dan berjalan sistematis di bawah hidung otoritas terkait.
Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin sebuah institusi yang dirancang sebagai ruang pembinaan justru bertransformasi menjadi pusat kendali kejahatan? Menanggapi hal ini, sejumlah pihak mendesak Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan kementerian terkait untuk segera melakukan intervensi nyata.
Langkah strategis yang dinilai paling mendesak adalah pemindahan warga binaan yang terlibat ke Lapas Nusakambangan. Dengan sistem pengamanan supermaksimum, pemindahan ini diyakini mampu:
- Memutus akses komunikasi dengan jaringan luar.
- Mempersempit ruang gerak para sindikat.
- Mengembalikan marwah lapas sebagai institusi pemasyarakatan.
Namun, mutasi narapidana dianggap hanyalah solusi di permukaan. Investigasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan internal menjadi kunci utama. Adanya dugaan celah sistemik dan potensi keterlibatan pihak lain tidak boleh diabaikan demi pembersihan institusi.
Kepala Lapas setempat kini dituntut untuk menunjukkan sikap tegas dan transparan. Publik menantikan langkah konkret guna menutup setiap celah keamanan yang ada. Tanpa tindakan radikal, lembaga pemasyarakatan berisiko permanen menjadi “ruang kendali” bagi kejahatan yang seharusnya diberantas hingga ke akarnya. Kasus ini bukan sekadar isu kriminal, melainkan ujian kredibilitas bagi seluruh sistem pemasyarakatan di Indonesia.
(TEAM)











